Rabu, 01 Juli 2015

Nikmat, tak Puas...


Dalam angan...


Mengukir liar

Seliar mungkin...
Merangsang otot...
Memacu imajinasi luas...
Beradu kaku...
Bayang-bayang wajah tangguh...

Menahan rasa

Sesekali mengeluh...
Menghujam Pena!
Menggores-gores tak karuan
Kadang hampir meledak puas...

Kembali...

Terus menerus...

Merangkai imajinasi...
Membumbungkan nikmat
Yang siap meledak seketika...

Dalam  lelah

Perlahan  tersadar
Kertas sudah kusam...
Tak lagi nikmat
Menggores Pena...

- Nikmat, tak Puas. 2015


-Theory of Design

Minggu, 10 Mei 2015

Cerita Meris (Kimabajo - Talawaanbajo)


Kimabajo

Talawaanbajo06.05 jam di dinding terlihat. segera beranjak dari kasur kusam dan bergegas ke kampus 
Biru. matahari tampak lelah menghabiskan malam panjang dengan embun pagi yang masih terasa. tampak kedua bus yang sudah siap mengantar kami. satu persatu mahasiswa Orange terkumpul sebelum bersama-sama. ketua jurusan Arsitektur mner Judy Waani selaku dosen mata kuliah Metodelogi Riset yang akan membimbing ditemani kaprodi Arsitektur mner Hany Poli bersama mner Hendriek Karongkong. perkampungan dan rumah yang berada di atas air menjadi tujuan perjalanan kali ini.








Kimabajo, kecamatan Wori menjadi tujuan pertama. tepi pantai yang belum terjamah tiang-tiang pancang yang megah. beberapa penduduk yang masih memilih tinggal di pesisir. sederet kamera pun berlomba mengabadikan momen tersebut. tak lama berselang seorang ibu mengatakan rumahnya berada di paling ujung dari perkampungan. segera saya, Chesney Udang dan Merel Losu langsung mengikuti ibu tersebut. disana tampak suaminya yang menikmati angin pantai. sedikit memperkenalkan diri dan tujuan kami berada disana. pak Rahman namanya. ia menceritakan, nama kampung Kimabajo diambil dari nama Kerang Kima yang biasanya ditemukan suku Bajo dilaut. seiring waktu kamung itu dinamakan Kimabajo. ia menambahkan bahwa penduduk disana bukan hanya dari suku Bajo saja. orang-orang Minahasa masih banyak disana. dan semua suku Bajo yang tinggal di kampung tersebut berasal dari Pulau Naeng yang berada jauh di depan perkampungan. pak Rahman mengatakan awalnya perkampungan berada ditengah laut, sambil menunjuk jauh ke tengah laut. persis di samping rumahnya yang sudah ditutupi air pantai, perkawinan kedua anaknya dilaksanakan tambahnya. ia pun mengijinkan kami untuk melihat-lihat isi rumahnya. sebagian rumahnya sudah berada di tepi pantai dan sebagiannya lagi berada diatas pantai jika air laut pasang. bagian depan rumahnya yang menghadap langsung ke arah pulau Naeng menjadi tempat spiritual untuk memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. pak Rahman mengatakan disini ia membaca dan merenungkan Al-Quran bersama sang istri. dengan orientasi ke tempat yang menjadi asal dari keberadaan mereka di kampung tersebut.







Kopi Hitam pun disungguhkan yang membuat kita tertahan dan asik berbincang dengan keluarga kecil tersebut. ditemani nyanyian ombak dan dipayungi pohon ketapang. tak lama Ento dan yang lain bergabung untuk menikmati kebersamaan kami. pak Rahman menambahkan bahwa beberapa bulan lalu turis dari Jepang datang untuk penelitian. dan tak lama ia mendengar kabar bahwa di Kimabajo akan menjadi tempat wisatanya para turis Bule yang akan berkunjung. resort-resort yang dibangun nantinya bertujuan untuk dinikmati para turis tersebut. diskusi pun terputus, terdengar kabar dari mner Waani kalau perjalanan akan dilanjutkan.






perjalanan dilanjutkan ke Talawaanbajo. supir bus yang masih setia menemani mengantarkan kami. hari yang semakin sore membatasi rasa ingin tahu akan kampung tersebut. sulit mencari teman berbincang untuk waktu yang lama. sedikit cerita yang didapat bahwa suku Bajo yang berada disini masih berasal dari Pulau Naeng. penduduk yang ada sudah dari berbagai asal, seperti tinutuan kata seorang bapak yag tak sempat menanyakan namanya. hampir semua penduduk bekerja sebagai nelayan untuk bertahan hidup. Talawaanbajo memanjakan kita dengan pesona alamnya. lompatan-lompatan indah para Lumba-Lumba masih bisa dilihat dari kejauhan.




Mesin bus kembali dinyalakan, tanda untuk kembali pulang. ada rasa sesal karna belum terpuaskan dengan informasi yang didapat. Kimabajo dan Talawaanbajo memberi ingatan tentang pola hidup di Sario Tumpaan. selain menjadi nelayan untuk bertahan hidup juga dapat menikmati pantai dengan bebasnya. pantai yang dinikmati tanpa limbah gedung-gedung megah. pantai yang memiliki kekayaan berlimpah. pantai yang memang seharusnya milik rakyat bersama.

Catatan Perjalanan MK. Meris. 9 Mei 2015


Selasa, 05 Mei 2015

Ba Karya, Ba Cipta, Ba Rasa, Baku Berbage

Terbangun dari malam panjang para tentara kampus Orange. bunyi klakson motor dari Fidel terdengar samar-samar. jam menunjukkan 08.21. dengan terburu-buru ba siap sementara Fidel menunggu. pagi yang cerah dan birunya langit menemani torang pe perjalanan ke Kawangkoan. disana Heince telah bersama dengan Toar, teman lamanya dari ITM Tomohon yang tinggal di Kawangkoan. Sementara Dhika dan yang lainnya ba dola Bus di terminal Karombasan. 


Di depan Gereja Eben Haezar Talikuran Kawangkoan torang menunggu datangnya Toar untuk bersama-sama ke rumahnya. cukup jauh masuk ke dalam dari Tugu Kacang. pekuburan disepanjang jalur, di ujung jalan ada Waruga yang bertuliskan Koko Maka Siow Siow diatasnya. memberikan rasa penasaran di benak saya dan Fidel. setibanya di rumah Toar, tampak Heince dengan senyum lebarnya dan menanyakan teman-teman lain yang masih dalam perjalanan. Fidel yang masih penasaran langsung menanyakan Waruga yang tak jauh dari rumahnya Toar. Heince yang telah lebih dulu melihatnya, mengatakan setelah diskusi torang mo kasitu. tak lama, kabar dari Dhika yang telah sampai di Kawangkoan memotong pembicaraan. bergegas Fidel, Toar, Vino menjemput mereka yang menunggu di Tugu Kacang. sambil meneguk kopi yang disajikan kakaknya Toar, satu persatu rombongan tiba. Gerit, Ungke, Aldo, Bambang, Astrid, Lala, Opo, Tombe, Inoy, Dhika, Fandy, menjadi rombongan pertama yang tiba. Kia dan Mumek, masih berada di kampus menunggu Wailan, Lee dan Kelo untuk bersama-sama ke Kawangkoan. tawa canda dan diskusi bebas mencairkan suasana. Toar coba membagikan cara-cara pembuatan Cajon yang dibuatnya sendiri. dengan suara pelan Toar menceritakan Papan Kayu yang dipakainya, diambil dengan diam-dam dari Meja yang ada di rumahnya dan dibungkus dengan Kain untuk menutupinya. Toar menambahkan bahwa panjang, tinggi, dan lebarnya papan berpengaruh dalam kualitas suara yang dihasilkan dari Cajon. Dhika menjadi tertarik untuk mencoba membuatnya sendiri.


Hari makin siang, menghemat waktu Diskusi Wale 11 - MAHASISWA ARSITEKTUR SULAWESI UTARA dimulai. karya-karya yang tercipta dengan keahlian masing-masing coba dibagikan dan didiskusikan bersama. karya yang dicipta dari perjalanan searching di internet maupun perjalanan di kampung halaman. dengan rasa cinta dan sadar bahwa manusia itu hidup dan selalu merasakan serta menemukan hal-hal baru. cita rasa Seni yang tak diajarkan dalam sistem perkuliahan Kampus.


Sesi pertama diskusi dimulai Bambang (Eflin Neghe) yang membagikan karya cipta sendiri yang dibuatnya. dimulai dari Lukisan PopArt, seni lukis dengan cat air maupun cat minyak. dengan menggabungkan kehalusan dan harmonisasi warna menjadi gaya dari karya artistiknya. adapula String Art yang baru dipelajarinya berkat ide kreatif dari Inoy Lagonda. karya seni yang tercipta dari Paku yang menjadi titik-titik koordinart yang membentuk pola dan dirangkai serta dililitkan Benang di tiap-tiap Paku. disambung dengan presentasi karya dari Fandy Hadamu yang sedang semangatnya menciptakan Wanita dalam garis-garis halus Realistisnya. Realistic Sketch menjadi bahan diskusi berikut. paras cantik seorang Wanita tampak nyata di kertas yang disodorkannya. sentuhan halus dari tangan Fandy menggugah rasa seakan wanita itu sedang tersenyum kepada saya. Kesabaran menjadi kunci dari sketsa yang dihasilkan Fandy ini. Kemudian saya dan Dhika Paparang melanjutkan dengan bedah karya seni ukir dan seni pahat yang didapat dari hasil petualangan kami masing-masing. ukiran Manguni dalam ReliefArtwork diukir dari bahan kertas koran bekas yang telah mengeras dengan campuran lem fox yang kemudian dilukis. adapula Patung Arcaboss yang dibuat Dhika menyerupai Sam Ratuangi. patung yang terbuat dari batu kapur yang dipahat. diskusi kemudian dilajutkan dengan beberapa masukkan maupun pertanyaan untuk tiap-tiap karya. dan sedikit berbagi pengalaman dari Toar dalam keahliannya merancang Arsitektur. lama berdiskusi mendengar kabar dari Kia dan yang lain. rombongan berikut sudah berada di Tugu Kacang. kembali, Fidel menjemput mereka untuk berdiskusi bersama. Lama berdiskusi membuat perut lapar. dari dapur tercium aroma masakkan mama dan kakaknya Toar. tak lama, kakaknya keluar memanggil untuk makan bersama. ayam dan ikan menjadi santapan kami.


Diskusipun dilanjutkan. kali ini Kia mencoba membagikan ilmu yang didapatnya. DoodleArt, garis-garis coretan yang biasanya kita buat di bangku sekolah dasar termasuk dalam DoodleArt katanya. unsur utama yang diperhatikan dalam karyanya adalah garis dan bidang. yang didalamnya tersimpan makna-makna. disambung dengan bedah film dan diskusi mengenai Industri Kreatif, yang dibawa Ival Tombe Budiman. disini Tombe mengajak kita untuk lebih berani lagi untuk menunjukkan karya-karya kita yang dicipta dengan sendirinya serta terus menggali hal-hal baru dalam Arsitektur. diskusi ditutup dengan tindak lanjut untuk kedepannya. Heince, Toar, dan Inoy coba memberi masukkan serta menuntun kita.


Hari semakin sore, cahaya sunset menghiasi langit Kawangkoan. kita bersiap untuk kembali ke Manado. kembali untuk terus menemukan hal-hal baru. terus dan terus. kembali membuka luas-luas ruang pengetahuan. raih dan genggam erat-erat apa yag ada di depan.


Catatan Perjalanan Kawangkoan, 2 Mei 2015.



Rabu, 22 April 2015

Bibir Pante

(sebuah ingatan)






Bibir itu tak lagi Sexy...

Ia telah sumbing
Ditikam tiang-tiang pancang para Penguasa! 


Kecupannya tak lagi Nikmat... 

Tak terasa... 

Seakan telah habis 
Dicumbui dengan rakus para Kapitalis Biadab!!! 




Kurindu Kecupannya... 

Yang membuat sesak 

Hampir tak bernapas... 


Kurinduuu.. 



Tak ada lagi sentuhan bola plastik... 

Yang ada Bola-bola kaum kaya lalu lalang... 

Tak ada lagi layang-layang... 

Yang mengisi langit sorenya... 

Tak ada lagi ruang untuk saling mencumbu... 

Ramai... 

Penuh... 

Sesak... 

Dengan beton raksasa... 

Seakan Bibir itu milik pribadi! 

Serakah!!! 




Tak ada lagi... 




Tak ada lagi ruang untuk kita... 

Tak ada lagi cumbuan liarnya.... 




Kurindu... 




Kurinduu saat itu... 

Kecupan yang menelan diriku... 






- Sario Tumpaan, 22 April 2015 


Selasa, 14 April 2015

Cahaya Orange

Kembali kau menampakkan

Keindahan mu...

Dari sini, Olympus...




Kembali kau memancarkan

Cinta mu...

Dari sini, Olympus 




Kembali kau menghangatkan 

Jiwa kita...

Dari sini, Olympus... 




Kembali kau hadir...

Memecah gelap hari 

Bersama kita...

Dari sini, Olympus...




Olympus Studio, 14 April 2015

Senin, 05 Januari 2015

Jangan Cintai Nyaku

Jangan katakan
Mencintaiku...
Bila lebih memilih 'maso mall' 
ketimbang 'maso utang'...

Jangan katakan 
Mencintaiku..
Bila lebih memilih manapaki eskalator 
ketimbang Menapaki Jalan Para Leluhur...

Jangan katakan 
Mencintaiku...
Bila lebih memilih melihat Para Hollywood di Layar Lebar 
ketimbang Para Leluhur mu...

Jangan katakan 
Mencintaiku...
Bila terImajinasi melihat Garuda terbang tinggi 
ketimbang mendengarkan Manguni... 

Jangan katakan 
Mencintaiku...
Bila lebih bangga berada di Tanah Lot 
ketimbang Tanah Malesung ini...

dan Jangan katakan Mencintaiku.!!!

Bila lebih Lantang... 

menyuarakan Proklamasi.. 

ketimbang berteriak...

I JAJAT U SANTI !!!!!


Minahasa, 4 Januari 2015