Di depan Gereja Eben Haezar Talikuran Kawangkoan torang menunggu datangnya Toar untuk bersama-sama ke rumahnya. cukup jauh masuk ke dalam dari Tugu Kacang. pekuburan disepanjang jalur, di ujung jalan ada Waruga yang bertuliskan Koko Maka Siow Siow diatasnya. memberikan rasa penasaran di benak saya dan Fidel. setibanya di rumah Toar, tampak Heince dengan senyum lebarnya dan menanyakan teman-teman lain yang masih dalam perjalanan. Fidel yang masih penasaran langsung menanyakan Waruga yang tak jauh dari rumahnya Toar. Heince yang telah lebih dulu melihatnya, mengatakan setelah diskusi torang mo kasitu. tak lama, kabar dari Dhika yang telah sampai di Kawangkoan memotong pembicaraan. bergegas Fidel, Toar, Vino menjemput mereka yang menunggu di Tugu Kacang. sambil meneguk kopi yang disajikan kakaknya Toar, satu persatu rombongan tiba. Gerit, Ungke, Aldo, Bambang, Astrid, Lala, Opo, Tombe, Inoy, Dhika, Fandy, menjadi rombongan pertama yang tiba. Kia dan Mumek, masih berada di kampus menunggu Wailan, Lee dan Kelo untuk bersama-sama ke Kawangkoan. tawa canda dan diskusi bebas mencairkan suasana. Toar coba membagikan cara-cara pembuatan Cajon yang dibuatnya sendiri. dengan suara pelan Toar menceritakan Papan Kayu yang dipakainya, diambil dengan diam-dam dari Meja yang ada di rumahnya dan dibungkus dengan Kain untuk menutupinya. Toar menambahkan bahwa panjang, tinggi, dan lebarnya papan berpengaruh dalam kualitas suara yang dihasilkan dari Cajon. Dhika menjadi tertarik untuk mencoba membuatnya sendiri.
Hari makin siang, menghemat waktu Diskusi Wale 11 - MAHASISWA ARSITEKTUR SULAWESI UTARA dimulai. karya-karya yang tercipta dengan keahlian masing-masing coba dibagikan dan didiskusikan bersama. karya yang dicipta dari perjalanan searching di internet maupun perjalanan di kampung halaman. dengan rasa cinta dan sadar bahwa manusia itu hidup dan selalu merasakan serta menemukan hal-hal baru. cita rasa Seni yang tak diajarkan dalam sistem perkuliahan Kampus.
Sesi pertama diskusi dimulai Bambang (Eflin Neghe) yang membagikan karya cipta sendiri yang dibuatnya. dimulai dari Lukisan PopArt, seni lukis dengan cat air maupun cat minyak. dengan menggabungkan kehalusan dan harmonisasi warna menjadi gaya dari karya artistiknya. adapula String Art yang baru dipelajarinya berkat ide kreatif dari Inoy Lagonda. karya seni yang tercipta dari Paku yang menjadi titik-titik koordinart yang membentuk pola dan dirangkai serta dililitkan Benang di tiap-tiap Paku. disambung dengan presentasi karya dari Fandy Hadamu yang sedang semangatnya menciptakan Wanita dalam garis-garis halus Realistisnya. Realistic Sketch menjadi bahan diskusi berikut. paras cantik seorang Wanita tampak nyata di kertas yang disodorkannya. sentuhan halus dari tangan Fandy menggugah rasa seakan wanita itu sedang tersenyum kepada saya. Kesabaran menjadi kunci dari sketsa yang dihasilkan Fandy ini. Kemudian saya dan Dhika Paparang melanjutkan dengan bedah karya seni ukir dan seni pahat yang didapat dari hasil petualangan kami masing-masing. ukiran Manguni dalam ReliefArtwork diukir dari bahan kertas koran bekas yang telah mengeras dengan campuran lem fox yang kemudian dilukis. adapula Patung Arcaboss yang dibuat Dhika menyerupai Sam Ratuangi. patung yang terbuat dari batu kapur yang dipahat. diskusi kemudian dilajutkan dengan beberapa masukkan maupun pertanyaan untuk tiap-tiap karya. dan sedikit berbagi pengalaman dari Toar dalam keahliannya merancang Arsitektur. lama berdiskusi mendengar kabar dari Kia dan yang lain. rombongan berikut sudah berada di Tugu Kacang. kembali, Fidel menjemput mereka untuk berdiskusi bersama. Lama berdiskusi membuat perut lapar. dari dapur tercium aroma masakkan mama dan kakaknya Toar. tak lama, kakaknya keluar memanggil untuk makan bersama. ayam dan ikan menjadi santapan kami.
Diskusipun dilanjutkan. kali ini Kia mencoba membagikan ilmu yang didapatnya. DoodleArt, garis-garis coretan yang biasanya kita buat di bangku sekolah dasar termasuk dalam DoodleArt katanya. unsur utama yang diperhatikan dalam karyanya adalah garis dan bidang. yang didalamnya tersimpan makna-makna. disambung dengan bedah film dan diskusi mengenai Industri Kreatif, yang dibawa Ival Tombe Budiman. disini Tombe mengajak kita untuk lebih berani lagi untuk menunjukkan karya-karya kita yang dicipta dengan sendirinya serta terus menggali hal-hal baru dalam Arsitektur. diskusi ditutup dengan tindak lanjut untuk kedepannya. Heince, Toar, dan Inoy coba memberi masukkan serta menuntun kita.
Hari semakin sore, cahaya sunset menghiasi langit Kawangkoan. kita bersiap untuk kembali ke Manado. kembali untuk terus menemukan hal-hal baru. terus dan terus. kembali membuka luas-luas ruang pengetahuan. raih dan genggam erat-erat apa yag ada di depan.
Catatan Perjalanan Kawangkoan, 2 Mei 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar