Kimabajo
Talawaanbajo06.05 jam di dinding terlihat. segera beranjak dari kasur kusam dan bergegas ke kampus
Biru. matahari tampak lelah menghabiskan malam panjang dengan embun pagi yang masih terasa. tampak kedua bus yang sudah siap mengantar kami. satu persatu mahasiswa Orange terkumpul sebelum bersama-sama. ketua jurusan Arsitektur mner Judy Waani selaku dosen mata kuliah Metodelogi Riset yang akan membimbing ditemani kaprodi Arsitektur mner Hany Poli bersama mner Hendriek Karongkong. perkampungan dan rumah yang berada di atas air menjadi tujuan perjalanan kali ini.

Kimabajo, kecamatan Wori menjadi tujuan pertama. tepi pantai yang belum terjamah tiang-tiang pancang yang megah. beberapa penduduk yang masih memilih tinggal di pesisir. sederet kamera pun berlomba mengabadikan momen tersebut. tak lama berselang seorang ibu mengatakan rumahnya berada di paling ujung dari perkampungan. segera saya, Chesney Udang dan Merel Losu langsung mengikuti ibu tersebut. disana tampak suaminya yang menikmati angin pantai. sedikit memperkenalkan diri dan tujuan kami berada disana. pak Rahman namanya. ia menceritakan, nama kampung Kimabajo diambil dari nama Kerang Kima yang biasanya ditemukan suku Bajo dilaut. seiring waktu kamung itu dinamakan Kimabajo. ia menambahkan bahwa penduduk disana bukan hanya dari suku Bajo saja. orang-orang Minahasa masih banyak disana. dan semua suku Bajo yang tinggal di kampung tersebut berasal dari Pulau Naeng yang berada jauh di depan perkampungan. pak Rahman mengatakan awalnya perkampungan berada ditengah laut, sambil menunjuk jauh ke tengah laut. persis di samping rumahnya yang sudah ditutupi air pantai, perkawinan kedua anaknya dilaksanakan tambahnya. ia pun mengijinkan kami untuk melihat-lihat isi rumahnya. sebagian rumahnya sudah berada di tepi pantai dan sebagiannya lagi berada diatas pantai jika air laut pasang. bagian depan rumahnya yang menghadap langsung ke arah pulau Naeng menjadi tempat spiritual untuk memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. pak Rahman mengatakan disini ia membaca dan merenungkan Al-Quran bersama sang istri. dengan orientasi ke tempat yang menjadi asal dari keberadaan mereka di kampung tersebut.

Kopi Hitam pun disungguhkan yang membuat kita tertahan dan asik berbincang dengan keluarga kecil tersebut. ditemani nyanyian ombak dan dipayungi pohon ketapang. tak lama Ento dan yang lain bergabung untuk menikmati kebersamaan kami. pak Rahman menambahkan bahwa beberapa bulan lalu turis dari Jepang datang untuk penelitian. dan tak lama ia mendengar kabar bahwa di Kimabajo akan menjadi tempat wisatanya para turis Bule yang akan berkunjung. resort-resort yang dibangun nantinya bertujuan untuk dinikmati para turis tersebut. diskusi pun terputus, terdengar kabar dari mner Waani kalau perjalanan akan dilanjutkan.

perjalanan dilanjutkan ke Talawaanbajo. supir bus yang masih setia menemani mengantarkan kami. hari yang semakin sore membatasi rasa ingin tahu akan kampung tersebut. sulit mencari teman berbincang untuk waktu yang lama. sedikit cerita yang didapat bahwa suku Bajo yang berada disini masih berasal dari Pulau Naeng. penduduk yang ada sudah dari berbagai asal, seperti tinutuan kata seorang bapak yag tak sempat menanyakan namanya. hampir semua penduduk bekerja sebagai nelayan untuk bertahan hidup. Talawaanbajo memanjakan kita dengan pesona alamnya. lompatan-lompatan indah para Lumba-Lumba masih bisa dilihat dari kejauhan.

Mesin bus kembali dinyalakan, tanda untuk kembali pulang. ada rasa sesal karna belum terpuaskan dengan informasi yang didapat. Kimabajo dan Talawaanbajo memberi ingatan tentang pola hidup di Sario Tumpaan. selain menjadi nelayan untuk bertahan hidup juga dapat menikmati pantai dengan bebasnya. pantai yang dinikmati tanpa limbah gedung-gedung megah. pantai yang memiliki kekayaan berlimpah. pantai yang memang seharusnya milik rakyat bersama.

Kimabajo, kecamatan Wori menjadi tujuan pertama. tepi pantai yang belum terjamah tiang-tiang pancang yang megah. beberapa penduduk yang masih memilih tinggal di pesisir. sederet kamera pun berlomba mengabadikan momen tersebut. tak lama berselang seorang ibu mengatakan rumahnya berada di paling ujung dari perkampungan. segera saya, Chesney Udang dan Merel Losu langsung mengikuti ibu tersebut. disana tampak suaminya yang menikmati angin pantai. sedikit memperkenalkan diri dan tujuan kami berada disana. pak Rahman namanya. ia menceritakan, nama kampung Kimabajo diambil dari nama Kerang Kima yang biasanya ditemukan suku Bajo dilaut. seiring waktu kamung itu dinamakan Kimabajo. ia menambahkan bahwa penduduk disana bukan hanya dari suku Bajo saja. orang-orang Minahasa masih banyak disana. dan semua suku Bajo yang tinggal di kampung tersebut berasal dari Pulau Naeng yang berada jauh di depan perkampungan. pak Rahman mengatakan awalnya perkampungan berada ditengah laut, sambil menunjuk jauh ke tengah laut. persis di samping rumahnya yang sudah ditutupi air pantai, perkawinan kedua anaknya dilaksanakan tambahnya. ia pun mengijinkan kami untuk melihat-lihat isi rumahnya. sebagian rumahnya sudah berada di tepi pantai dan sebagiannya lagi berada diatas pantai jika air laut pasang. bagian depan rumahnya yang menghadap langsung ke arah pulau Naeng menjadi tempat spiritual untuk memanjatkan doa kepada Sang Pencipta. pak Rahman mengatakan disini ia membaca dan merenungkan Al-Quran bersama sang istri. dengan orientasi ke tempat yang menjadi asal dari keberadaan mereka di kampung tersebut.

Kopi Hitam pun disungguhkan yang membuat kita tertahan dan asik berbincang dengan keluarga kecil tersebut. ditemani nyanyian ombak dan dipayungi pohon ketapang. tak lama Ento dan yang lain bergabung untuk menikmati kebersamaan kami. pak Rahman menambahkan bahwa beberapa bulan lalu turis dari Jepang datang untuk penelitian. dan tak lama ia mendengar kabar bahwa di Kimabajo akan menjadi tempat wisatanya para turis Bule yang akan berkunjung. resort-resort yang dibangun nantinya bertujuan untuk dinikmati para turis tersebut. diskusi pun terputus, terdengar kabar dari mner Waani kalau perjalanan akan dilanjutkan.

perjalanan dilanjutkan ke Talawaanbajo. supir bus yang masih setia menemani mengantarkan kami. hari yang semakin sore membatasi rasa ingin tahu akan kampung tersebut. sulit mencari teman berbincang untuk waktu yang lama. sedikit cerita yang didapat bahwa suku Bajo yang berada disini masih berasal dari Pulau Naeng. penduduk yang ada sudah dari berbagai asal, seperti tinutuan kata seorang bapak yag tak sempat menanyakan namanya. hampir semua penduduk bekerja sebagai nelayan untuk bertahan hidup. Talawaanbajo memanjakan kita dengan pesona alamnya. lompatan-lompatan indah para Lumba-Lumba masih bisa dilihat dari kejauhan.

Mesin bus kembali dinyalakan, tanda untuk kembali pulang. ada rasa sesal karna belum terpuaskan dengan informasi yang didapat. Kimabajo dan Talawaanbajo memberi ingatan tentang pola hidup di Sario Tumpaan. selain menjadi nelayan untuk bertahan hidup juga dapat menikmati pantai dengan bebasnya. pantai yang dinikmati tanpa limbah gedung-gedung megah. pantai yang memiliki kekayaan berlimpah. pantai yang memang seharusnya milik rakyat bersama.

