Tab

Microstock

Rabu, 16 Juli 2014

RUMAH itu Masih Hidup !







“Kita berawal dari Rumah
Rumah yang dibangun Pendahulu kita
Yang beratapkan Langit
Yang beralaskan Tanah
Yang berjalan dengan Angin
Yang menetap dalam Waktu
Dan Yang abadi dalam Jiwa”





Sempat ada keraguan untuk pergi. Antara tinggal dalam Rumah atau terbang tinggi. Beragam masalah datang menghampiri. Semangat memudar dan terbakar kembali. Para pendahulu tak henti-hentinya membakar semangat kami. Yang meyakinkan saya untuk Terbang Tinggi dan meninggalkan masalah yang ada. Kita mo pigi !. Nama yang sudah siap untuk berangkat diposting. Farid, Adam, Opo, Sanny, Bambang, Dhika, Bella, Fanny. Gerombolan kami bertambah menyusul Berger dan Kelo yang berhasil meyakinkan orang tua mereka, kemudian Ance, Lee dan Triny memastikan ikut di malam terakhir. Dengan semangat On the Road kita terbang menegaskan jati diri kita. WALE XI.





menghunuskan ambisi...
membakar semangat...
berjuta penasaran menanti berjuta pengalaman...
melawan 
segala resiko dan desahan - desahan 'false' yang ada...
dengan satu tekad,satu tujuan,satu mimpi yang sama...
mempertegas jati diri..!!!
ini kami...
bawalah kami...
sertai kami... 


SANG PENCIPTA!!!



Bandara Sam Ratulangi Manado, penerbangan kami delay 2 jam. Sambil menunggu, satu persatu mencari posisi yang nyaman untuk beristirahat, kursi ataupun lantai dijadikan tempat tidur. Yang lain mencari udara bebas untuk merokok, dan sedikit bercerita untuk melepas kebosanan. Pukul 15.38 pesawat kami lepas landas menuju Surabaya. Tiba di Surabaya disambut Sunset dan tak ingin meninggalkan moment dengan mengabadikannya. Sodara-sodara kami dari Rayon V JATIM telah menanti, mereka waktu itu menjadi panitia transit. Berjabat tangan, mengucapkan nama, seperti itulah awal perkenalan kami walaupun tak ada satu namapun yang bisa diingat dengan jelas pada waktu hehehe. Maklum ini pertama kali kita betemu. Kami diantar ke Universitas Merdeka Surabaya, penginapan selama di Surabaya.








Dan dengan beratapkan langit gelap yang bertaburkan bintang-bintang, kami duduk berbagi cerita dan berbagi rasa bersama. Mas Patek duduk bersama berbagi pengalaman, yang mengingatkan kepada kita di umur berapa pun, di tingkatan semester berapa pun kita bisa berkarya sebagai seorang calon ARSITEK. Ada satu tiipan dari toli-toli, Wahyudi kami memanggilnya WA’. Berpenampilan ‘rambo’ , berjiwa Rock n’ Roll kong lawa-lawa.Menambah warna pada malam itu. Perbincangan kami terhenti untuk mengisi perut yang kosong ini, makan ala Arsitektur pun disajikan. Nasi bungkus berjejer panjang, dengan berjongkok dan melipatkan satu kaki ke blakang, berhadapan dan menikmati bersama makan malam Arsitektur. Dan diskusi kita dilanjutkan dengan suguhan air perdamaian yang kami bawa. Yang memecah kebekuan suasana itu. Esoknya, mengisi waktu lowong kita menjelajahi kota Surabaya ditemani bang Edy,Afad, cak Surya. Sampai senja tiba dan kembali di UNMER menikmati segelas kopi Berani, sambil menunggu rayon yang lain tiba. Sore itu sodara-sodara Rayon X, XIII, XVII, XVIII tiba dan bergabung bersama kami. Rayon V disibukkan menyiapkan transportasi untuk perjalanan ke solo esoknya.








Jalur Surabaya akan berangkat ke solo melalui perjalanan darat, 6-7 jam perjalanan untuk tiba di Solo. Cukup untuk terlelap dalam mimpi. Dan bus yang mengantarkan kami tiba di UNS. Malam itu menjadi malam yang panjang. Karna perkenalan yang singkat di Surabaya memaksa kita untuk tetap membaur agar tak lagi kaku. Bersama lee, burger, farid,opie. Kami memilih untuk tak terlelap dan menikmati embun pagi di kampus UNS itu. Dan mentari sudah tinggi, sudah saatnya pembukan FK-TKI MAI 29 JATENG. Beberapa dari kami mengurungkan niat untuk mandi, karena cerita farid yang mengatakan selama kegiatan TKI MAI para pendahulu kita mempunyai ritual untuk tidak mandi.











Dengan menampilkan budaya-budaya yang menjadi identitas di Surakarta, FK-TKI MAI 29 JATENG dibuka di Keraton Surakarta. Dan dilanjutkan pertemuan untuk kesiapan kegiatan. Hari makin sore, panitia mengantarkan kami di penginapan. Hotel BIP di Tawangmangu. Menjadi tempat penginapan kami. Tawangmangu menyambut kami dengan suasana puncak yang dingin. Di penginapan, panitia kewalahan membagi kamar penginapan karna jumlah peserta lebih banyak dari perkiraan mereka. Dengan saling berbagi pengertian dan berkomitmen untuk tak mau kalah dengan keadaan yang ada, dengan rasa kebersamaan, kita berbagi dan membuktikan bahwa nilai Kekeluargaan itu tetap terjaga.






Esoknya, kegiatan dimulai. Farid dan Opo mengikuti Forkom Organisasi. Kelo dan Fanny di Forkom Pengmas. Bambang, Bella dan Trini di Forkom Pendidikan. Lee, Burger dan Ance di Workshop. Saya, Opie dan Sanny di Pengmas Lapangan. Di sela-sela kegiatan, kita menyempatkan untuk pergi ke air terjun Grojogan Sewu. Berjalan dari penginapan ke Grojogan Sewu. Berbagai moment diabadikan opie. Selain menikmati keindahan air tejun. Bersama lee, trini dan bebrapa teman BPR V kami menaklukkan tebing yang ada disitu. Di atas tebing ini, mengingatkan kita untuk tetap terjaga dalam mengambil langkah kedepannya. Bila langkah kita salah maka cerita kita akan tenggelam di bebatuan grojogan sewu ini. Rasa penasaran timbul, kala kita tak melanjutkan langkah ini di Semarang sesuai yang direncanakan.








Dan dengan di selimuti hangatnya api unggun dan dipayungi sinarnya bintang malam itu, kita duduk berbagi cerita berbagi rasa selama kegiatan berlangsung. Pada malam itu kegiatan FK-TKI MAI 29 Jateng ditutup oleh Rayon III. Malam semakin terasa panjang dilanjutkan untuk menghabiskan air perdamaian yang ada. Rayon-rayon masih belum terlelap, mengeluarkan air perdamaian yang di bawa. Yang mencairkan kebekuan malam Tawangmangu. Air perdamaian terus mengalir. Sampai mentari tiba, yang mengingatkan kita untuk berpisah dengan Rayon III dan meninggalkan dinginnya Tawangmangu. Mentari makin tinggi, sudah waktunya untuk kembali. Mampir di UMS sebelum mempersiapkan bus kembali di Surabaya.


Tibanya di UNMER Surabaya. Bang Aryo terus membujuk untuk tetap tinggal dan terus melangkah sampai di kota Malang. Sayangnya, tiket untuk kembali di tanah Minahasa sudah dipesan. Menambah rasa penasaran karna tak menyempatkan pergi. Mungkin Sang Pencipta tak mengijinkan. Bersama dengan lee, triny, bella, ance yang memutuskan untuk pulang lebih awal. Keramaian Taman Bungkul menemani di malam terakhir saya di kota Surabaya. Yang mengingatkan ku akan rumah. Esoknya, kita pulang ke Manado. Farid dan yang lain melanjutkan tour Java mereka. Mungkin dari mereka ada cerita yang bisa diabadikan untuk berbagi dalam Rumah kita.


Tawangmangu memberi bukti kalau Rumah itu berpenghuni dan melahirkan generasi yang baru. Yang pulang membawa bekal untuk orang Rumah. Yang akan terus bertumbuh dan berakar di Rumah itu. Menandakan bahwa Rumah itu tetap HIDUP. Rumah kita, WALE XI..!!!


Dengan harapan kita bisa merangkai cerita bersama…
Para pendahulu kita, The Katrox & Kabur Aer, Tarsius…
Dan kalian yang tinggal dalam Wale XI…
GorontaloXXX menunggu kita…
Yang baru akan terlahir lagi…








Kamis, 10 Juli 2014

Kendiz


dalam garis
terpancar jelas
itu dirimu

dalam garis
terbentuk harapan
seperti awal

Untuk Hari Kemenangan


berbeda...

namun ingin menyatu...



menantang ego...

untuk sebuah keabadian...

Tiap goresan hadir...
dari yang terdalam...
menyatu dalam keceriaan...

untuk sebuah kemenangan...
Kemenangan nafas kehidupan...

disitu
ada harapan

untuk mu
untuk ku
untuk kita